5 Tips Mengatasi “Drama” di Hari Pertama Anak Sekolah

“Bu, kok, Dio sering nangis, ya, kalau saya pamiti? Dia nggak mau saya tinggal. Padahal dulu kakaknya nggak kayak gini lho?”

Sebagai guru PAUD, saya pernah, bahkan sering mendengar curhatan orang tua seperti itu.

Bunda, drama (baca: anak menangis) di hari pertama sekolah adalah hal yang wajar dan lazim ditemui di hampir semua lembaga Pendidikan Anak usia Dini (PAUD). Rasa cemas atau takut akan muncul pada diri anak ketika memasuki lingkungan yang baru dan asing. Jangan terlalu khawatir. Proses beradaptasi di lingkungan baru merupakan tahap yang harus di lewati dan merupakan proses tumbuh kembang bagi anak.

Setiap anak memang memiliki kemampun beradaptasi yang berbeda-beda. Ada yang dapat dengan cepat beradaptasi, ada yang membutuhkan waktu yang lama untuk beradaptasi. Namun, ada upaya-upaya yang dapat orang tua usahakan agar proses adaptasi terutama waktu pelepasan anak di hari-hari pertama sekolahnya semakin cepat dan mudah tanpa drama yang mencekam.

Agar drama anak menangis di hari pertama sekolahnya tidak berlarut-larut, orang tua harus memberi dukungan yang positif. Selain itu, beberapa tips di bawah ini dapat orang tua terapkan agar anak lekas merasa nyaman di sekolah.

Baca juga: Anak Siap untuk Sekolah? Ini Ciri-Cirinya

Kenalkan Anak dengan Guru

Mengenalkan anak ke guru dan beri pengertian bahwa guru adalah penganti orang tua selama di sekolah. Beri pemahaman ke anak bahwa selama di sekolah ia akan bermain dan belajar bersama guru dan teman-temannya. Sampaikan juga agar anak jangan merasa segan untuk bilang ke guru jika ia mengalami kesulitan atau hendak meminta bantuan.

Selain itu, orang tua juga bisa menceritakan kebiasaan dan kepribadian anak ke guru. Dengan begitu, guru dapat lebih cepat mengenal anak. Ketika guru sudah mengenal kepribadian anak, guru dapat dengan mudah membantu proses adaptasi anak di lingkungan sekolah yang baru.

Lepas Anak dalam Waktu Singkat dan Penuh Makna

Berpamitan terlalu lama dengan anak akan menciptakan situasi drama makin panjang. Orang tua dan anak memiliki ikatan batin yang kuat. Jika dalam hati orang tua merasa berat untuk melepas anak di sekolah, hal itu dapat dirasakan oleh anak. Akibatnya, anak pun akan menjadi rewel dan semakin enggan di tinggal.

Ucapkan selamat tinggal, lakukan ritual berpamitan dengan penuh kasih sayang dan sarat makna. Kemudian segeralah pergi setelah berpamitan.

Foto: canva.com

Tiap orang tua dan anak bisa menciptakan ritual berpamitan yang unik. Misalnya dengan bersalaman, kecup kening dan katakan, “Selamat bersekolah, Bunda akan menjemputnmu nanti waktunya pulang.” Atau, bersalaman, kecup pipi kanan-kiri, peluk dan katakan, “Tabarokallah, selamat bersenang-senang di sekolah.” Bisa juga, setelah bersalaman lakukan tos dan pelukan hangat, lalu ucapkan, “Da … da …..”

Dengan ritual semacam itu, anak akan paham bahwa setelah ritual selesai maka orang tua segera pergi meninggalkannya di sekolah.

Jika Anak Masih Menangis Ketika Ortu Berpamitan, Biarkan Saja

Sudah dipamiti tetapi anak masih nangis? Kebanyakan orang tua tidak tega dan mengulur-ngulur waktu berpamitan. Ingat, ikatan batin orang tua dan anak itu sangat kuat. Jika orang tua merasa berat meninggalkan anak di sekolah, anak dapat merasakannya dan ia akan rewel. Namun, jika orang tua yakin dan percaya pada guru dan sekolah bahwa anak akan baik-baik saja dan merasa bahagia di sekolah, rasa itu pula yang akan terpantul ke anak sehingga ia lebih mudah berpisah dengan orang tua.

Berkaitan dengan hal ini, saya pernah punya pengalaman seorang anak yang sebenarnya mudah beradaptasi. Tetapi saya lihat bundanya tidak tegaan. Ketika waktu berpamitan, anaknya tidak menangis. Namun, karena bundanya tidak segera pergi dan melihat terus ke arah anak sambil melambai-lambaikan tangan, hal ini menyebabkan si anak lama-kelamaan malah meneteskan air mata dan menangis sesenggukan. Ia pun enggan masuk kelas.

So, yakinkan, teguhkan hati Bunda untuk menitipkan anak di sekolah. Segeralah pergi setelah berpamitan meskipun anak menangis. Serahkan ke gurunya dan katakan bahwa Bunda akan menjemputnya nanti di waktu pulang.

Baca juga: Mencetak Generasi Pembaca Sepanjang Hayat dengan Metode Read Aloud

Jangan Pernah Menyelinap Diam-Diam

“Iya, Bunda nunggu di teras. Adek masuk kelas dulu sama bu guru ya?”

Pernah mendengar orang tua yang berkata seperti itu ke anaknya? Dan ketika anaknya sudah dilihat enjoy di kelas, tanpa kata si orang tua menyelinap pergi.

Big No. jangan pernah lakukan hal itu, ya, Bunda. Hal itu bukan cara menenangkan anak, tetapi malah makin membuat anak bertambah rewel. Saat anak menyadari bahwa Bunda sudah tidak di teras menungguinya dan pergi tanpa pamit, si anak biasanya langsung menangis. Bahkan tangisan anak bisa lebih kencang dibanding jika anak dipamiti dan Bunda langsung pergi.

Selain itu, rasa kepercayaan anak ke Bunda akan berkurang. Akibatnya, keesokan harinya anak mungkin mogok sekolah dan bahkan akan semakin sulit untuk melepas anak di sekolah.

Jangan Membuat Janji yang Tak Pasti

Menjanjikan memberi hadiah jika anak mau bersekolah apakah salah? Tentu tidak. Namun, pastikan jangan lakukan ini terlalu sering dan tepati janji Bunda pada anak.

Jangan pernah menjanjikan sesuatu yang tidak akan Bunda tepati. Misalnya, “Nanti kalau adek mau sekolah, pulangnya Bunda beliin es krim lima ya.” Eh, ternyata pas pulang sekolah anaknya lupa dan Bunda sengaja tidak membelikannya es krim. Atau, “Kalau adek mau sekolah hari ini, besok Minggu Bunda ajak jalan-jalan.” Tapi kenyataannya ketika hari Minggu tiba, janji tersebut tidak bisa dipenuhi karena sesuatu hal. Dilengkapi pula tanpa adanya penjelasan kenapa tidak bisa dipenuhi dan tidak ada kata perminta maafan dari Bunda.

Apa yang dirasakan anak? Kecewa, tentu saja.

Keesokan harinya ketika ia ingat, tentu ia akan menagih. Lama-kelamaan jika janji tidak ditepati, akibatnya hilanglah rasa kepercayaan anak pada Bunda.

Nah, itu tadi 5 tips mengatasi “drama” di hari pertama anak sekolah. Selamat mencoba. Semoga setelah menerapkan tips-tips tersebut tidak akan ada drama lagi ketika di sekolah.

O ya, mungkin Bunda punya tips serupa lainnya? Sharing, yuk, di kolom komentar.

Mungkin Anda juga menyukai

14 Respon

  1. Nurul Rahma berkata:

    Ini hal yg sering terjadi.
    Semoga anak² bs beradaptasi dgn baik ya
    Dibutuhkan dukungan banyak pihak

  2. Dewi Adikara berkata:

    Ini sering saya lihat saat antar ponakan ke sekolah
    Syukurlah, dari dulu duo krucil tidak susah untuk dibangunkan dan berangkat ke sekolah
    Mungkin masih ada rasa mengantuk saat awal dibangunkan, tapi setelah mandi dan siap berangkat, mereka selalu menampilkan senyum ceria, sehingga kita lega saat melepas mereka ke sekolah

  3. Lintang berkata:

    Kalau di sekolah anakku dulu sama Kaka gurunya dipesenin, “kalau anaknya nangis ditinggal aja bund. Nanti biar sama kami, kalau ngga gitu anaknya pasti tiap hari drama kalau bundanya aja ngga tega.”
    bener juga sih, kalau udah sekolah yah kita pasrah aja ama gurunya, kan emang mereka perpanjangan tangan orang tua di sekolah. Jadi kita emang harus lebih semeleh aja hehe.

  4. Kedua anak saya Alhamdulillah ga ada drama di hari pertama sekolahnya. Tapi memang masing-masing anak bisa jadi berbeda. Ada yang adaptif ada juga yang butuh waktu untuk menyesuaikan diri Kelima tips ini bisa membantu untuk atasi drama itu.

  5. Ahhhh…bener juga ya, saat seorang ibu gak tegaan ninggalin si anak, itu bisa pengaruh pada si anak. Berarti kalau ada drama saat mau ninggalin anak di sekolah, musti dicari tuh penyebabnya.

  6. Juwita berkata:

    Anak pertama Alhamdulillah no drama. Tapi anak kedua saya sepertinya akan drama nih. Tahun depan akan masuk SD. Apalagi putri saya ini tidak sekolah di TK. Semoga tips nya bisa saya praktekkan

  7. Waah ternyata gini ya kalau melepas anak di hari pertama sekolah. Bisa disimpan nih tips nya buat nanti kalau si kecil mulai sekolah

  8. Kata Nieke berkata:

    Jadi keinget hari pertama saya sebagai anak kecil di sekolah. Waktu TK dulu diantar ibu sekolah, ibu masih ngintip di jendela bersama ibu-ibu lainnya. Saya enggak nangis dan tenang-tenang aja. Soalnya sebulan sebelum sekolah udah dijejalin kata-kata, “Ntar kalau sekolah gak boleh nangis ya. Mama gak nungguin lho. Nanti ketemu banyak temen main dan bisa main, belajar di sana.” Alhasil, mujarab, ibu saya cuma nungguin satu hari pertama. Temen-temen lainnya banyak yang nangis-nangis bahkan ada yang kejer.

  9. Jihan berkata:

    Duh iya banget iniii :(( aku jg mengalaminya kemarin dan ituu hikss.. susah bangett
    Semoga ntar kalau pas masuk TK ngga drama2 banget kayak gini yah

  10. saraah megha berkata:

    aaaaa terima kasih tipsnya mbaaak, ternyata aku agak khawatir ini di anak keduaku yang perempuan, untuk anak lakilaki lebih berani kulepas sekolah, yang perempuan ini nempel sama ibunya

  11. Lia Yuliani berkata:

    Waktu pertama kali anakku sekolah saya tungguin memang tapi sounding habis itu kalau dia nggak apa-apa belajar di sekolah dengan guru dan temannya. Nanti pas pulang dijemput. Untunglah anaknya ngerti. Alhamdulillah

  12. Sandra Hamidah berkata:

    Berasa kemarin baru lahiran, sekarang anak dah tk aja wkkwkw alhamdulillah anakku mudah beradaptasi, malah manja kalo ditungguin. Aku jemput pun dia masih main di playground heheheu

  13. Hari pertama anak bungsuku masuk sekolah juga terjadi drama. Awalnya, si bungsu bisa tenang saat ditinggalkan. Namun, saat ada beberapa anak yang mulai menangis, akhirnya dia ikutan nangis. Untung, gurunya bisa mengatasi kelas yang gaduh tersebut. Padahal, rumah kami tepat berada di depan TK-nya, lho. Hihihi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.