Anak Tantrum? Ketahui 7 Cara Mengatasinya

Gambar : Freepik

Saat itu anak saya berusia sekitar dua tahun. Saat saya ingin belanja di tukang sayur yang mangkal di ujung gang rumah, dia ingin ikut.

 ”Bun, ikut.” 

“Boleh, tapi jalan sendiri ya. Bunda nanti harus bawa barang belanjaan,” jawabku.

Ketika berangkat dia jalan dengan semangat. Namun, ketika perjalanan pulang setelah dapat lebih dari separuh jalan, ia merengek minta gendong.

“Enggak bisa sayang, Bunda bawa barang belanjaan banyak nih. Yuk, jalan! Sebentar lagi sampai rumah kok,” kataku.

Saat itu jarak untuk sampai ke rumah hanya beberapa meter karena saat itu kami sampai di depan rumah tetangga, yang rumahnya tepat di samping rumahku. Mendengar jawabanku, sontak anakku langsung menangis keras dan berguling-guling di tanah.

Aku berusaha bersikap tenang dan berkata, “Bunda tunggu di rumah ya ….” Sambil terus berjalan pulang aku perhatikan gerak-gerik  dan reaksinya. Aku rasa aman meninggalkannya di situ, itu adalah gang sepi, jarang sekali ada motor lewat, apalagi mobil. Lagian aku masih tetap bisa mengawasinya dari jendela rumahku jika sudah sampai rumah. Baru beberapa langkah aku meninggalkannya, dia lari mengejarku sambil terus meraung.

Apakah Bunda juga pernah mengalami hal serupa? Tiba-tiba anak menangis, berteriak-teriak, atau berguling-guling di lantai kalau keinginannya tidak dipenuhi. Sikap anak seperti ini disebut tantrum. Tantrum sendiri merupakan hal normal bagi anak usia dini, terutama pada anak yang belum bisa menggunakan kata untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan atau inginkan. Tantrum mulai terjadi pada saat anak mulai membentuk sense of self. Pada usia ini anak sudah cukup memiliki perasaan “me” dan “my wants”, tetapi mereka belum memiliki keterampilan yang memadai bagaimana cara memuaskan keinginan mereka secara tepat.

Tantrum pada anak  dapat terjadi karena beberapa sebab. Di antaranya yakni, pertama,  karena adanya kebutuhan anak yang tidak terpenuhi. Misalnya, anak merasa sangat lapar, lelah, atau ngantuk, sedangkan orang tua atau pengasuh tidak peka terhadap apa yang anak rasakan. Orang tua atau pengasuh tidak segera memenuhi kebutuhan anak tersebut, akibatnya anak akan menangis atau meronta-ronta.

Kedua, anak gagal dalam melakukan sesuatu, sehingga anak menjadi emosi dan tidak bisa mengendalikannya. Misalkan, anak ingin memasang lego, tetapi ia tidak bisa memasang lego tersebut. Bisa jadi anak akan marah-marah atau menangis sambil melempar mainan legonya tersebut.

Ketiga, pola asuh orang tua yang terlalu memanjakan atau terlalu mengekang anak. Terlalu memanjakan anak, bisa menumbuhkan keyakinan pada anak bahwa segala kepentingannya atau keinginannya harus dituruti. Jika tidak, anak bisa tantrum untuk mendapatkan keinginannya tersebut. Sedangkan pola asuh yang terlalu mengekang, suatu saat bisa memicu perilaku tantrum pada anak sebagai reaksi terhadap penolakan dominasi orang tuanya.

Keempat, anak mencontoh tindakan penyaluran amarah yang salah dari orang terdekatnya (ayah atau ibunya). Perhatikan bagaimana sikap kita saat marah. Jika saat marah kita suka berteriak-teriak, membanting pintu, atau melempar barang-barang di sekitar, kemungkinan besar anak kita anak menirunya.

Kelima, anak mengalami hambatan dalam perkembangannya. Tantrum pada anak bisa juga disebabkan karena adanya gangguan perkembangan, misalnya autis atau ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).

Tantrum harus segera ditangani dengan tepat sejak dini. Sebab jika tidak segera ditangani, tantrum bisa berlanjut sampai anak dewasa dan membentuk karakter yang buruk ketika dewasa kelak.

Nah, bagaimana cara mengatasi tantrum dengan tepat. Berikut tujuh cara mengatasi anak tantrum yang harus Bunda ketahui.

  1. Mengenali Kebiasaan-Kebiasaan Anak dan Mengetahui secara Pasti pada Kondisi-Kondisi seperti Apa yang Dapat Memicu Terjadinya Tantrum Pada Anak

Jika kondisi anak yang terlalu lelah biasa memicu tantrum pada anak. Maka, perhatikan saat anak bermain, jika anak melakukan aktivitas fisik atau permainan yang sangat menguras tenaga dalam waktu lama. Ajaklah anak untuk beristirahat sejenak supaya anak tidak terlalu kelelahan.

2. Menjadi Contoh Yang Baik Bagi Anak 

Ingat ungkapan “children see, children do.” Apa yang dilihat anak, ialah apa yang akan ia lakukan. Jadi, jika Anda marah hendaknya harus bisa menyalurkannya secara tepat. Cara Bunda menyalurkan marah akan dilihat dan ditiru anak di kemudian hari.

3. Tidak Terlalu Memanjakan Dan Tidak Pula Terlalu Mengekang Anak.

Anak yang terlalu dimanjakan dan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya, bisa tantrum ketika permintaanya ditolak. Sedangkan anak yang terlalu dikekang dan dibesarkan secara otoriter, suatu saat bisa memberontak atau tantrum sebagai bentuk penolakan terhadap sikap orang tua terhadapnya. Berilah porsi yang tepat dalam mengasuh anak. Janganlah terlalu memanjakan atau terlalu mengekangnya. Anak yang diberi kebebasan berpendapat dengan batasan-batasan yang jelas dan konsisten akan lebih mudah mengatasi masalahnya dengan baik dan jarang mengalami tantrum.

  1. Kendalikan Emosi Saat Anak Tantrum

Jika anak tantrum, Bunda sebaiknya tetap bersikap tenang dan tahan amarah. Memarahi anak yang sedang tantrum malah dapat memperunyam keadaaan. Saat marah, IQ Bunda turun 30%, yang menyebabkan Bunda tidak bisa menyelesaikan masalah dengan baik.

  1. Peluk Anak

Bunda bisa memeluk dan mencium si kecil yang sedang tantrum untuk menenangkan emosinya. Namun, jika dia terus meronta dan tidak mau dipeluk, biarkanlah sebentar. Berikanlah waktu untuk dia melepaskan emosinya. Nanti kalau emosi anak sudah agak mereda baru Anda peluk dan cium anak untuk menunjukan bahwa Anda peduli terhadapnya.

  1. Jalin Komunikasi Perilaku Seperti Apa yang Bunda Inginkan Terhadap Anak

Lakukan komunikasi ini dalam suasana hangat, misalnya saat kondisi emosi anak sedang ceria, atau saat duduk makan bersama. Bahas perilaku anak dan bagaimana perilaku yang seharusnya anak lakukan dapat mengajarkan anak tentang perilaku yang dapat diterima oleh lingkungannya.

  1. Ajarilah Anak untuk Berlatih Menguasai dan Mengendalikan Emosi

Ajaklah anak melakukan berbagai permainan, misalnya ular tangga atau petak umpet, dan ajarkan bagaimana berperilaku yang tepat jika kalah atau menang dalam permainan. Ajarkan juga sportivitas saat bermain dan hindari perilaku curang saat bermain.

Khusus untuk mengatasi tantrum yang disebabkan karena anak mengalami hambatan atau gangguan perkembangan, Bunda harus berkonsultasi dengan ahli perkembangan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Nah, demikian tadi tujuh cara yang dapat Bunda coba untuk mengatasi anak tantrum. Jadi, Bunda tak perlu risau lagi jika menghadapi anak tantrum.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *